|
DKI Kucurkan Rp 11,6 Miliar untuk Beasiswa Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar bagi siswa berprestasi dan siswa dari keluarga tidak mampu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan beasiswa bagi 8.709 siswa. Melalui Yayasan Beasiswa Jakarta (YBJ), untuk tahun ajaran 2008/2009 pemprov mengalokasikan Rp 11,6 miliar. Setiap siswa akan diberikan beasiswa sebesar Rp 1,2 juta-Rp 2 juta per tahun hingga tamat sekolah.
Alokasi beasiswa tersebut, Rp 8,145 miliar untuk 6.788 siswa sekolah lanjutan tingkat menengah (SLTA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah (MA) yang berprestasi namun berasal dari keluarga tidak mampu. Kemudian beasiswa sebesar Rp 2,181 miliar diberikan kepada 1,212 mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu.
Satu orang mahasiswa diberikan beasiswa sejumlah Rp 1,8 juta untuk satu tahun ajaran. Begitu juga beasiswa yang diberikan kepada 214 siswa dan mahasiswa yang berbakat pada event nasional/internasional dianggarkan Rp 408 juta. Bagi siswa/mahasiswa yang meraih medali emas diberikan beasiswa Rp 2 juta dan medali perak Rp 1,75 juta.
Tidak hanya itu, dana beasiswa juga dialokasikan kepada 350 siswa SMK peserta kartu Gakin yaitu Rp 630 juta. Setiap siswa SMK memperoleh beasiswa sebesar Rp 1,8 juta hanya untuk satu tahun ajaran. Beasiswa juga diberikan sebagai bantuan penulisan skripsi bagi mahasiswa semester IX sebanyak 129 orang yaitu Rp 129 juta. Terakhir, beasiswa sebagai bantuan penulisan thesis/disertasi program S2 dan S3 sebanyak enam orang sebesar Rp 113 juta atau masing-masing mendapatkan Rp 7,062 juta per mahasiswa.
Adapun persyaratan untuk mendapatkan bantuan beasiswa yaitu berdomisili dan bersekolah di Jakarta. Umur tidak lebih dari 20 tahun untuk siswa SLTA dan 25 tahun untuk mahasiswa. Nilai raport rata 7 untuk SLTA dan IPK 3 untuk mahasiswa. Memberikan surat keterangan tidak mampu, berkelakuan baik, belum bekerja, dan surat belum menikah khusus mahasiswa.
Menurut Ketua YBJ, Djailani, Yayasan Beasiswa Jakarta didirikan Pemprov DKI pada tahun 2004 lalu untuk membantu mengurangi beban biaya pendidikan serta memotivasi siswa dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. "Kami ingin memecahkan masalah kekurangmampuan keluarga miskin untuk menyekolahkan anak-anak mereka," kata Djailani saat acara Penyerahan Bantuan Bagi Siswa Gakin dan beasiswa penerima medali pada event nasional tahun 2008 di Balaikota DKI, Jakarta, Selasa (9/6).
Dana beasiswa, sambungnya, didapatkan dari APBD DKI. Sejak tahun 2004 hingga tahun ini, YBJ telah mengucurkan beasiswa sebesar Rp 63 miliar untuk 83 ribu siswa dan mahasiswa. Pada tahun 2004, dialokasikan dana Rp 15 miliar untuk memberikan beasiswa kepada siswa SD dan SMP sebanyak 37 ribu siswa. Tahun 2005, alokasi dana sebesar Rp 12 miliar untuk 6.000 siswa SD dan SMP. "Jumlahnya sedikit, karena tahun itu merupakan masa transisi pengalihan beasiswa hanya kepada siswa SLTA. Sebab SD dan SMP telah menerima dana BOS dan BOP," ujarnya. Kemudian, tahun 2006-2008, pertahunnya YBJ mendapatkan alokasi dana sebesar Rp 12 miliar kepada 40 ribu siswa SLTA dan sekolah sederajat. Untuk tahun 2009, Djailani mengungkapkan, Pemprov DKI telah menganggarkan dana beasiswa Rp 20 miliar bagi 11.600 siswa SLTA dan mahasiswa. Beasiswa akan diberikan pada tahun ajaran 2009/2010 atau pada tahun 2010. "Karena dananya meningkat, maka jumlah dana akan bertambah Rp 300 ribu untuk seluruh kategori," jelasnya.
Kalau selama ini YBJ selalu mendapat kucuran dana dari Pemprov DKI, Djailani mengatakan, tahun depan akan mengusahakan pencarian donatur secara mandiri. Saat ini YBJ sedang menjalin hubungan dengan beberapa perusahaan swasta yang peduli pendidikan melalui sistem Coorporate Social Responsibility (CSR). Kemudian tahun depan, YBJ akan buat gebrakan baru dengan memberi beasiswa pendidikan penuh kepada 50 mahasiswa yang berbakat dan berprestasi. Sementara itu, Deputi Gubernur Bidang Kependudukan dan pemukiman, Margani mustar mengatakan, siswa SMA/SMK/MA ada sekitar 380 ribu orang. Berdasarkan data BPS DKI, dari jumlah itu ada empat persen siswa miskin. "Hanya tiga persen dapat ditanggulangi dari APBD, sisanya dari APBN," kata Margani. Dia menjelaskan, Jakarta tidak memiliki sumber daya alam seperti daerah-daerah lain. Sehingga hanya mengandalkan terciptanya SDM yang memiliki pendidikan dan keterampilan yang mampu menjadi motor penggerak pembangunan dan siap bersaing. Memahami kondisi tersebut, maka pendidikan menjadi kata kunci bagi terciptanya pembangunan manusia yang cerdas, berkepribadian dan bermartabat.
Dengan pendidikan akan menjadikan manusia sebagai sumber investasi dimasa datang untuk membangun mental dan karakter bangsa yang memiliki rasa percaya diri serta mandiri. Sebagai konsekuensi untuk meningkatkan pendidikan di Kota Jakarta, serta memenuhi amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Pemprov DKI Jakarta telah memberikan prioritas anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan dengan komitmen mewujudkan alokasi anggaran pada sektor pendidikan sebesar 20 persen lebih total APBD.(beritajakarta) |